Monthly Archives: November 2008

DISIPLIN PADA ANAK….?

MENANAMKAN DISIPLIN PADA ANAK

anak

Apa yang dilakukan orang tua saat ini akan sangat mempengaruhi apakah seorang anak menjadi rajin atau malas. Dan bahkan, sopan atau keterlaluan.

Cara Anda merespon perilaku anak Anda akan membentuk tingkah laku anak Anda. Saat ini, langkah yang perlu dipupuk adalah bagaimana kita sebagai orang tua mengajarkan kepada anak yang belum rasional agar bertingkah laku baik dan mengerti kosep yang baik dalam tingkah laku. Mulailah dengan kesabaran, berikan latihan dan Anda bisa memberikan beberapa aturan untuk kedisiplinan mereka sehingga kekolotan anak Anda akan menjadikanya sosok anak-anak yang menyenangkan. Aturan yang bisa Anda terapkan tersebut antara lain:

Aturan 1: Menonjolkan Sikap positif

Akan mudah menjadi kebiasaan, jika Anda bereaksi pada saat terlihat perilaku anak Anda yang kurang benar. Anda harus selalu mencampuri dan mengkoreksi setiap kali anak Anda melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, Anda akan menjadi lebih berhasil jika Anda secara aktif menekankan perilaku yang baik, selama anak Anda menghargai ijin Anda di atas segalanya.

Berikan pendekatan yang baik dan halus ketika mereka berperilaku keliru, karena hal itu akan membuat mereka lebih menghormati Anda. Hargai mereka dengan ucapan seperti, “Ayah atau Ibu akan sangat gembira apabila kamu meletakkan barang-barang yang telah selesai kamu gunakan ketempat semula.”

Kata-kata itu akan membuat mereka akan lebih senang melakukan hal tersebut dengan suka rela daripada jika Anda memarahi mereka.

Aturan 2: Mencegah Masalah

Menjauhkan dan memindah benda tajam, mudah pecah, dan tanaman yang menggoda dari lingkungan sekitar anak Anda akan menghilangkan kesalahan perilaku yang tidak Anda inginkan. Selain itu, hindarkan situasi yang akan menyebabkan masalah. Cobalah untuk menyuruh cepat tidur ketika waktu tidur malam telah tiba, atau menyuruh makan saat waktu makan telah lewat.

Cara lain untuk meminimalkan kepusingan Anda terhadap tingkahnya adalah, ingatkan dia sebelum sesuatu menjadi kesalahan. Sebagai contoh, setiap akan tidur, Anda sebaiknya mengingatkannya, “Buang air dulu sebelum tidur supaya tidak ngompol.”

Aturan 3: Atur Batasan

Semua anak butuh kejelasan, batas konsistensi untuk membatasi suatu prilaku itu bisa diterima atau tidak dapat diterima. Pada kenyataannya, hal itu akan membuat mereka merasa aman di dunia mereka, yakni pada setiap aktivitas yang mereka lakukan.

Kadang-kadang, memberikan batasan yang memaksa tampak tidak perlu. Seberapa penting atau berbahayanya sebuah masalah, Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri. Misalnya, jika anak Anda yang berumur 12 bulan menarik buku atau mengacaukan buku Anda yang ada dirak. Contoh lain, anak Anda yang berumur 1,5 tahun lupa mengucapkan kata tolong saat meminta.

Jika Anda tidak segera memperbaiki perilaku itu sekarang meski anak Anda terlihat begitu lucu dan manis saat “menantang” Anda dengan perilaku itu Anda tetap tidak akan menyukainya jika hal itu dilakukan berkali-kali. Mereka terus mencoba membentuk apa yang baik dan apa yang tidak baik. Adalah tugas Anda untuk memberitahukan kepada mereka.

Memang, sangat mudah untuk memaafkan kesalahan anak kecil dengan mengatakan, “Oh, dia ‘kan masih kecil,” atau “Dia tetap tidak akan mengerti meski saya bilang jangan.” Akan tetapi, anak Anda lebih cerdas dari apa yang Anda fikirkan terhadap mereka. Dengan bantuan dan kesabaran Anda, mereka mampu belajar membedakan sesuatu yang salah dan benar.

Aturan 4: Tetap Tegas

Jika Anda terlalu lunak, putra Anda juga akan suka membantah Anda. Dia akan segera menemukan mana tombol yang ditekan untuk mendapatkan respon yang dia inginkan. Dan anda dapat memastikan dia akan menekan dan menekan tombol itu kembali. Lebih baik membuat hal itu jelas bahwa anda yang punya kuasa bukan putra anda. Kekurangtegasan akan cenderung menyulitkan Anda sendiri. Jika Anda tidak menekankan batasan yang boleh mereka lakukan, Anda merampas anak Anda untuk mengerti bagaimana dia bertingkah laku seperti apa yang Anda harapan. Hal tersebut akan membuat mereka akan menjadi liberal dan menjurus untuk melawan.

Aturan 5: Tetapkan Harapan Anda Agar Perilaku Mereka Terus Realistis

Jika hal itu tidak Anda lakukan, Anda harus bersiap untuk menerima kegagalan. Lakukan peningkatan harapan Anda sebagaimana anak Anda tumbuh. Sebagai contoh, sementara anak berumur setahun tidak diharapkan untuk menggunakan kata tolong dan terima kasih, anak yang berumur 1,5 tahun dengan kosa kata lebih dari 50 kata memiliki kemampuan untuk belajar mengucapkan kata-kata itu.

Aturan 6: Tetaplah Konsisten

Sekali Anda buat aturan, tekankan hal itu pada mereka. Sikap tidak konsisten membingungkan anak untuk belajar berperilaku. Jika Anda membenarkan dia tatkala menumpahkan pasir dari wadahnya minggu lalu, kenapa Anda marah saat ini?Cobalah memperkirakan aturan yang Anda terapkan agar tetap bisa untuk diikuti. Jika anda mengatakan bahwa saat ini akan menjadi waktu yang tepat untuk membiarkan anak Anda bermain di lantai sebanyak dua kali, maka biarkan mereka melakukan hal itu terus-menerus tanpa larangan. Jangan larang anak Anda melakukan sesuatu setelah mereka melakukan tiga hingga sepuluh kali.

Tentunya, mustahil Anda akan tetap konsisten sepenuhnya dalam setiap hal. Ada ruang dan celah untuk pengecualian. Anda mungkin bisa membiarkan anak Anda melompat-lompat di sofa ketika dia terperangkap hujan, meski hal itu biasanya dianggap tidak baik. Jelaskan mengapa ada perubahan dari biasanya karena ada hal yang khusus dan hanya untuk hari itu saja.

Aturan 7: Tetap Tenang

Pesan disiplin Anda akam mempunyai pengaruh yang lebih besar jika anda mengirimkannya dengan santai, sikap yang rasional. Ya, hal itu mudah untuk diucapkan tetapi belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Menaikkan nada suara Anda merupakan reaksi yang alami, tetapi membentak masing-masing menurunkan mental anak dan membuat Anda menurunkan model aturan Anda. Jika terlalu diam pun, akan membuat anak Anda merasa yang dikerjakan adalah hal yang lucu dan akan melakukan hal yang serupa kembali. Suara terlalu lembut atau tak biasanya, mungkin akan mencairkan pesan anda pada mereka.

Aturan 8: Pilihan Kata

Cara terbaik untuk menyampaikan pesan agar sampai pada anak adalah dengan menggunakan sedikit mungkin kata. Anak kecil lebih menyukai dan mengerti bila menerima pesan yang singkat, seperti, pedas, jangan lari, digigit itu sakit, dan lainnya.

Aturan 9: Siapkan Contoh Yag Baik

Yang sering kita lihat adalah seorang ibu yang memukul anaknya dengan tangan, padahal mereka mengatakan pada putera mereka, “Jangan memukul!”

Cara menasehati dengan melakukan pemukulan akan mengakibatan anak terbawa dengan perlakuan yang diterimanya. Sebaiknya anda memberikan pengertian yang dapat mereka terima dari pada harus menggunakan tangan untuk melerai mereka.

(dicopy dari www.tempo.co.id)

sumber : http://www.geocities.com/kaniatri/DisiplinAnak.doc.

Advertisements

Pembelajaran Kreatif

pembPembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk mesimulasikan imajinasi.
Kreatifitas adalah sebagai kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Ciri-ciri Kepribadian Kreatif
Berdasarkan survei kepustakaan oleh Supriadi (1985) mengidentifikasi 24 ciri kepribadian kreatif yaitu: (1) terbuka terhadap pengalaman baru, (2) fleksibel dalam berfikir dan merespons; (3) bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan;(4)menghargai fantasi; (5) tertarik kepada kegiatan-kegiatan kreatif; (6) mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain; (7) mempunyai rasa ingin tahu yang besar; (8) toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti; (9) berani mengambil risiko yang diperhitungkan; (10) percaya diri dan mandiri; (11) memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas; (12) tekun dan tidak mudah bosan; (13) tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah; (14) kaya akan inisiatif;
(15) peka terhadap situasi lingkungan; (16) lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan dari pada masa lalu; (17) memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik; (18) tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik dan mengandung teka-teki; (19) memiliki gagasan yang orisinal; (20) mempunyai minat yang luas; (21) menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri; (22) kritis terhadap pendapat orang lain; (23) senang mengajukan pertanyaan yang baik; dan (24) memiliki kesadaran etik-moral dan estetik yang tinggi.

Sedangkan Kirton (1976) membedakan ciri kepribadian kreatif kedalam dua gaya berfikir : Adaptors dan innovators. Kedua gaya tersebut merupakan pendekatan dalam mengahadapi perubahan. Adaptors mencoba membuat sesuatu lebih baik, menggunakannya, ada yang menggunakan metode, nilai, kebijakan, dan prosedur. Mereka percaya pada standard dan konsesus yang diterima sebagai petunjuk dalam pengembangan dan implementasi ide-ide baru. Sedangkan innovators suka merekonstruksi masalah, berpikir .

Mencermati pandangan pertama, yang mengartikan kreativitas sebagai kemampuan, maka yang dimaksud kemampuan di sini adalah kemampuan menggunakan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dilandasi oleh fakta dan informasi yang akurat dalam memecahkan atau mengatasi suatu masalah, dengan demikian kreativitas dalam pengertian kemampuan hanya mencakup dimensi kognitif. Ciri-ciri kreativitas tersebut belum sepenuhnya menjadi tolok ukur seseorang dapat disebut kreatif. Ciri lain yang harus dikembangkan yaitu ciri afektif menyangkut sikap dan perasaan seseorang, antara lain motivasi untuk berbuat sesuatu.

sumber : http://gurupkn.wordpress.com/2008/04/26/metodologi-pakem/

SDM – Penghambat Perkembangan Pendidikan Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas

indoPenghambat Pendidikan Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas di Indonesia
Oleh : Juliansyah Shariati Pratomo

LATAR BELAKANG

Setelah rezim Orde Baru jatuh pada tahun 1998, semakin banyak kita lihat pemerintah Indonesia mencoba untuk melakukan perubahan sistem hampir di semua bidang seperti pada contohnya ekonomi, pendidikan, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan masih banyak lagi yang mungkin tidak bisa disebutkan satu persatu.
Disini kita akan lebih memfokuskan pada perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Negara kita Indonesia apabila kita analisa lebih rinci sebenarnya mempunyai banyak sekali tantangan terhadap perkembangan pendidikan, salah satunya yang sangat penting adalah minat siswa yang kurang dan berbagai kebijakan-kebijakan baru dan selalu berubah seakan-akan menjadikan siswa sebagai kelinci percobaan, dan juga korupsi yang bukanlah hanya dapat mencuri anggaran negara untuk masa kini, tetapi juga untuk generasi dimasa yang akan datang yang dapat mengurangi anggaran negara untuk memfasilitasi perkembangan pendidikan yang sedang berjalan.
Di tanah air kita Indonesia ini, yang terdiri dari 17,000 pulau lebih, memang harus kita akui bahwa jalur komunikasi yang efektif dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan masih sangatlah sulit. Pengembangannya pun tidak bisa kita pungkiri bahwa masih belum dapat dikatakan adil dan merata, contohnya adalah kota-kota besar biasanya mendapatkan dana yang jauh lebih banyak dan perhatian yang lebih dari pemerintah ketimbang daerah-daerah pedalaman yang seharusnya mendapatkan “special attentions” dari pemerintah tetapi masih belum juga dapat terlaksana.
Kualitas pendidikan di Indonesia pun akan dapat ditingkatkan dengan cepat dan secara signifikan bilamana sumber daya manusia (guru yang berkualitas dan memliki profesionalisme yang tinggi) dan sumber daya lainnya yang sudah terdapat di Indonesia dapat dimanfaatkan merata. Akan tetapi, semua ini hanya bisa efektif jika suara masyarakat pendidikan secara luas didengarkan dan kemandirian ataupun kepercayaan masyarakat secara luas dapat dicapai.
IDENTIFIKASI & ANALISA PERMASALAHAN

Lalu apa yang sebenarnya menjadi penghambat perkembangan pendidikan saat ini? Dan apakah yang harus dihadapi bukan hanya oleh pemerintah saja tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat didalam perkembangan pendidikan di negara kita tercinta ini
Ada beberapa hal yang sangat penting yang menjadi pokok permasalahan dari penghambat perkembangan pendidikan terlepas dari masalah alokasi dana pendidikan dari APBN/APBN 20% yang sampai saat ini masih belum jelas sistematika pembagian kewenangannya dan upaya peningkatan sumber daya manusia para pengajar yang merupakan hal penting yang harus diperhatikan dan harus ditindak lanjuti, tetapi akan saya lebih fokuskan kepada 2 hal berikut;

1.    Pendidikan di Indonesia belum maksimal mengajak semua pelajar berusaha untuk berfikir mandiri dan kurangnya penerapan ilmu menganalisa sesuatu. Memang pemerintah sudah menerapkan solusi yang masih terbilang baru yaitu sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) pengganti kurikulum 1994 yang menerapkan ilmu menganalisa dan menanamkan kemandirian di setiap pelajar tetapi apakah semua itu berjalan dengan lancar? Sedangkan menurut Drs.Yusuf Rianto, Dinas Pendidikan Kulon Progo, selama ini memang belum ada SK Menteri yang menetapkan pemberlakuan KBK. Jadi selama ini kebijakan KBK tersebut secara yuridis formal memang tidak ada dasar hukumnya. Beliau merasa sekarang ini hanya menjadi kelinci percobaan saja. Kurikulum yang selalu berubah-ubah pada setiap pergantian menteri pendidikan menajamkan pandangan masyarakat bahwa ada unsure politik didalamnya dan membuat masyarakat berasumsi bahwa pemerintah tidak ada mempunya konsistensi terhadap sebuah keputusan yang telah diambil. Pada akhirnya pihak siswalah yang paling dirugikan, pelajar yang dipaksa menerima perubahan yang begitu cepat, tanpa alasan yang memadai. Beliau juga menegaskan bahwa ini menunjukkan bahwa sikap pemerintah yang sangat ragu-ragu dan mengambil langkah cepat tanpa memikirkan dampak-dampak yang akan terjadi, menunjukkan pemerintah dalam hal ini Depdiknas dinilai selalu tergesa-gesa, reaktif, tidak transparan dan partisipatif.

2.    Kebijakan Nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) / Ujian Akhir Semester atau sejenisnya yang terbilang sangat memaksakan para pelajar. Didalam artikelnya Bapak Achmad Sentosa, seorang advisor untuk Partnership for Governance Reform in Indonesia menyatakan kekhatirannya bahwa UAN hanya akan mememperpanjang deret masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia. UAN mempunyai dampak negatif yang sangat besar terhadap perkembangan mental pelajar Indonesia. Kita dapat mengambil satu contoh nyata, dikutip dari kompas cyber media edisi Juni 2006 seorang siswa SMK di Pontianak memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya lantaran tidak lulus didalam UAN, ini sudah jelas bahwa kebijakan tersebut telah menurunkan selera serta mentalitas pelajar untuk saling berkompetensi dalam menuntut ilmu. Pasal 60 UU No. 39 tahun 1999 menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecedasannya. Apabila sistem pendidikan kita melalui kebijakan konversi nilai tidak mampu menghargai siswa sesuai dengan bakat dan tingkat kecedasannya, maka perbuatan ini dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM.
William Chang juga menyebutkan dalam artikel yang pernah di muat di media yang sama kompas bahwa, penerapan instrument multiple choice pada UAN juga tidaklah terlalu cukup untuk merepresentasikan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik siswa secara komprehensif dan objektif. Lama kelamaan secara tidak langsung, dari satu sisi, sistem ini akan lebih condong untuk menghargai pelajar yang mempunyai intelektualitas yang tinggi daripada anak-anak yang mempunyai tingkat intelektualitas sedang dan rendah. Dengan begitu pelajar yang mempunyai tingkat intelektualitas sedang dan rendah akan mengalami suatu perang batin apakah mereka cukup kompeten atau tidak. Dan apabila ini terus berlanjut tidak dapat dipungkiri bahwa akan banyak pelajar Indonesia pada masa mendatang yang akan mengalami penurunan mental yang selanjutnya akan menjadi salah satu pengambat dalam perkembangan pendidikan itu sendiri dan masalah ini sudah bisa digolongkan pada diskriminatif dalam dunia pendidikan formal.

USULAN SOLUSI PERMASALAHAN

Melihat 2 jenis permasalahan dan setelah bersama-sama kita analisa masalah diatas, saya mempunyai beberapa usulan mengenai solusi dari setiap permasalahan diatas, berurutan dari nomor identifikasi permasalahan, yaitu;

1.    Memotivasi minat pelajar Indonesia untuk mencintai sekolah. Dengan cara, pelajar dituntun untuk mengikut sertakan dirinya berperan aktif dalam belajar dan mengembangkan kreatifitas pelajar. Sebagai salah satu sample pendidikan negara maju dan saya akan mencoba memberikan sebuah perbandingan dari pendidikan di Finlandia yang menjadi negara dengan sistem sekolah terbaik di dunia, menurut Alex Steffan seorang Direktur Eksekutif World Changing Weblog.
Didalam artikel yang dimuat di Website Negara Finlandia penulis Virual Finland yaitu Sarra Korpela, setiap sekolah di Finlandia dianjurkan untuk memiliki ruang tersendiri untuk pembuatan majalah, musik, drama, ilmu pengetahuan seperti laboratorium, pendidikan lingkungan, ruang olahraga dan perpustakaan. Dan kebanyakan memiliki taman yang diisi dengan tempat duduk santai untuk membaca. Kembali ke jam pelajaran, mereka lebih banyak memilih pekerjaan kelompok daripada bekerja secara individu, agar tidak hanya menerima pelajaran tetapi juga bisa mengimplementasikannya.
Di web yang sama Alex Steffan mengatakan, “maybe the secret is what they don’t do: Finnish students spend less time in class than students in any other industrialized nation”.
Dari contoh-contoh diatas kita bisa mengambil gagasan baru bahwa untuk mencapai pendidikan yang aktif dan kreatif sekolah tidak boleh hanya dijadikan tempat untuk sekedar belajar tetapi juga untuk bermain dan tempat yang bisa menunjang pengekspresian minat dan bakat terpendam siswa.
Untuk masalah kurikulum yang sedang terjadi menurut saya, pergantian kurikulum yang terus menerus akan merusak tatanan pendidikan yang telahada, dan pada akhirnya akan bingung dimana kurikulum kita sebenarnya berada dana akan dibawa kemana kurikulum kita. Seharusnya pemerintah melakukan reevaluasi dari kurikulum yang ada untuk menghilangkan hal-hal yang tidak relevan dan menambah hal yang masih harus diisi dalam kurikulum tersebut. Sehingga pemerintah tidak lagi melakukan pergantian yang berulang-ulang.

2.    UAN dapat terus dilaksanakan apabila dalam konteks untuk dapat mengetahui pencapaian target pendidikan nasional, dengan begitu pemerintah dapat mengetahui daerah mana yang sudah mencapai target dan daerah mana yang belum agar dapat ditindaklanjuti kemudian. Tetapi, UAN tidaklah perlu dilaksanakan apabila hanya bertujuan untuk standarisasi kelulusan. Saya berikan dua contoh ilustrasi dampak yang akan terjadi apabila UAN menjadi stardarisasi kelulusan. Ada seorang pelajar yang rajin dan pintar, tidak pernah bolos, selalu juara, berkepribadian positif akan tetapi, tetapi karena pada malam sebelum ujian, salah satu keluarganya sakit, sehingga harus masuk rumah sakit dan harus menemani, ketika pagi harinya ujian berlangsung dia mengerjakan soal diliputi dengan perasaan was-was, tidak dapat berkonsentrasi penuh dan akhirnya hasil ujiannya dinyatakan gagal. Dan sebaliknya seorang siswa lainnya yang sering bolos, nilainya kurang memuaskan, tetapi pada saat ujian, kebetulan duduk berdekatan dengan anak yang pintar, sehingga dapat mencontek, akhirnya ujiannya dinyatakan lulus. Kita bisa melihat dari dua contoh diatas bahwa sungguh tidak adil apabila Ujian Akhir Nasional harus dijadikan standarisasi kelulusan siswa. Apakah pendidikan seperti ini yang diharapkan pemerintah kita?? Apakah pemerintah terlalu mementingkan sebuah nilai?? Apakah di Indonesia ilmu sudah bisa dibayar dengan sebuah nilai ujian???? Seharusnya pemerintah memberi kesempatan dan otonomi kepada sekolah dalam hal ini adalah guru untuk menentukan kelulusan karena gurulah yang paling mengetahui proses perkembangan siswa selama di sekolah.
Menanggapi pendapat dari William Chang, saya mengusulkan agar penerapan instrument ujian untuk Multiple Choice diganti atau ditambahkan dengan penerapan studi kasus dalam ujian dan pembelajaran dan essay untuk meningkatkan ilmu menganalisa siswa. Didalam buku yang ditulis oleh Fredrick G.Brown disebutkan bahwa dengan essay para pelajar dan pengajar dapat mengukur pengetahuan dan ketrampilan siswa atau sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Terdapat beberapa alasan mengapa mengukur pencapaian siswa. Sebelum itu kita menuju alasan tersebut mari kita ulas bersama apa yang dimaksud dengan pencapaian siswa. Implikasi kemampuan mengekspresikan pengetahuan ini ke berbagai cara, melihat hubungan dengan pengetahuan lain, dan dapat mengaplikasikannya ke situasi baru, contoh dan masalah. Ketrampilan kita artikan mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu.

Dua statement solusi tersebut ternyata memiliki hubungan yang kuat dan hubungan timbal balik demi mencapai pendidikan Indonesia yang didambakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang didukung dengan kurikulum yang transparan. Yang dimaksudkan dengan transparan disini adalah kejelasan proses kurikulum dan memiliki simbiosis mutualisme antara pemerintah dan anggota sekolah (guru dan pelajar).

REFERENSI

Amriel,Reza Indragiri,2006.“Sekolah dan Kejahatan Kerah Putih“, http://www.kompas.com
Kutipan dari sebuah wacana,  http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/2002-December/000518.html
Kutipan dari Kompas Cyber Media, http://www.kompas.com/utama/news/0606/21/122602_.htm
Chang,William,2004.”Uang dalam bingkai Pendidikan Holistik”, http://www.kompas.com
http://www.bappenas.go.id/index.php?module=Filemanager&func=download&pathext=ContentExpress/&view=6/Narasi%20Bab%207%2011072001.pdf
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/08/13/brk,20060813-81781,id.html
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/29/1103.htm
http://re-searchengines.com/0906afdhee.html
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/15/jogja/20986.htm
http://kompas.com/kompas-cetak/0312/18/dikbud/754064.htm
http://www.worldchanging.com/archives/001779.html
http://www.finland.fi/netcomm/news/showarticle.asp?intNWSAID=30625
Fredrick,G.Brown,”Measuring Classroom Achievement”.ISBN-13:978-0030524219. Publisher:Hardcourt School.

sumber : http://indonesiamasadepan.net/index.php?option=com_content&task=view&id=55&Itemid=31

Sejarah Kurikulum Indonesia

kurikulumBANGSA yang besar adalah bangsa yang mempunyai kurikulum pendidikan yang bagus dan stabil (tidak berubah-ubah) serta memberi motivasi pelajarnya agar bisa meningkatkan standar mutu pendidikannya di kemudian hari.

Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.

Tahun 1950 ada kurikulum SD yang disebut “Rencana Pelajaran Terurai”. Pada tahun 1960 muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”. Tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968″ pengganti “Kurikulum 1950″. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung” diganti dengan pelajaran matematika modern.

Tahun 1975 disebut “Kurikulum 1975″ yang fokus pada pelajaran matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan Kewarnegaraan. Pada tahun 1984 menyempurnakan Kurikulum 1975 dengan “Cara Belajar Siswa Aktif” (CBSA).

Tahun 1991 CBSA dihentikan lalu muncul “Kurikulum 1994″. Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK), yang dipelesetkan jadi Kurikulum Berbasis Kebingungan.

Terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP), entah berapa tahun lagi ada kurikulum baru yang membuat bingung semua pihak. Siswa kita jangan dijadikan “kelinci percobaan”. Majulah pendidikan Indonesia.

Wisnu Widjaja
Jln. Sindoro I No. 16
RT 11 RW 02 Panggung
Kota Tegal

diambil dari surat pembaca hU pikiran Rakyat

http://abinissa.wordpress.com/2007/11/20/sejarah-kurikulum-indonesia/

DSIPK (Desain sistem instruksional berorientasi pada pencapaian kompetensi)

edu2

oleh : bu pipit
(pada syukur 24 November 2008)

DSIPK (Desain sistem instruksional berorientasi pada pencapaian kompetensi)

kunci dari DSIPK adalah kreatifitas guru

tiga hal yang penting :

1. Analisis kebutuhan (akademik dan non akademik)

2. Pengembangan (organisasi materi, proses)

3. pengembangan alat evaluasi (formatif dan sumatif)

definisi ; 1. model sederhana tahapan praktis
2. jelas
3. menekankan pencapaian kompetensi itu sendiri

Definisi Pendidikan

edu

oleh : Pak Sobirin
(pada syukur 17 November 2008)

Definisi pendidikan:

– memanusiakan manusia
– inflantasi nilai-nilai
– optimalisasi potensi
– proses merubah tingkah laku
– penanaman karakter
– internalisasi nilai-nilai
– transfer ilmu
– proses merubah manusia menjadi berakhlaq
– kebisaan, ketahuan.

dan pendidikan di sekolah juara tidak hanya seperti yang disampaikan dalam taksonomi bloom,
namun sampai pada buah pendidikan itu sendiri wallahu’alam

Media Pembelajaran

kbm_exposure2

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. (Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.)

SD JUARA Cimahi dalam melaksanakan KBMnya juga senantiasa mengoptimalkan media pembelajaran yang ada dengan maksimal. Hasilnya…. wow subhanallah anak-anak antusias dalam kegiatan belajarnya.

Salam juara…..!

A-T-U