Monthly Archives: December 2008

Sobat

kaktusAku minta kepada Allah setangkai bunga segar..

Dia beri aku kaktus berduri…

Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik…

Dia beri aku ulat berbulu…

Aku sempat.. sedih..kecewa.. dan protes….

Betapa tidak adilnya ini ….!

Namun kemudian…..

Kaktus itu berbunga…sangaaat indah sekali….

Dan ulatpun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramaat cantik…

Itulah jalan Allah…

Indah pada waktunya…

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan…

Tapi Allah memberi apa yang kita perlukan…

Walau kadang sedih…kecewa…terluka…

Tapi jauuuuh diatas segalanya…

Dia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita….

Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar…

Masihkah kita mengharap pada yang lain?

Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang pandai bersyukuratas karunia dari Allah… Amin

Jadi…Sobat Zakat semua yang Allah cintai, marilah kita terus berikhtiar dengan segenap kemampuan kita untuk mensukseskan program-program lembaga kita, namun marilah kita imbangi usaha kita itu dengan kekuatan doa. Dan itulah sebenarnya ruh dalam semua aktifitas di lembaga kita…..
A-T-U

Advertisements

Awan…..

Di sebuah tempat nan jauh dari kota, tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan. Ia seperti mencari sesuatu di surau itu.

“Assalamu’alaikum, Guru!” ucapnya ke seorang tua yang terlihat sibuk menyapu ruangan surau. Spontan, pak tua itu menghentikan sibuknya. Ia menoleh ke si pemuda dan senyumnya pun mengembang. “Wa’alaikumussalam. Anakku. Mari masuk!” ucapnya sambil meletakkan sapu di sudut ruangan. Setelah itu, ia dan sang tamu pun duduk bersila.

“Ada apa, anakku?” ucapnya dengan senyum yang tak juga menguncup. “Guru. Aku diterima kerja di kota!” ungkap sang pemuda kemudian. “Syukurlah,” timpal sang kakek bahagia. “Guru, kalau tidak keberatan, berikan aku petuah agar bisa berhasil!” ucap sang pemuda sambil menunduk. Ia pun menanti ucapan sang kakek di hadapannya.

“Anakku. Jadilah seperti air. Dan jangan ikuti jejak awan,” untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut si kakek. Sang pemuda belum bereaksi. Ia seperti berpikir keras memaknai kata-kata gurunya. Tapi, tak berhasil. “Maksud, Guru?” ucapnya kemudian.

“Anakku. Air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya; air kian bersemangat untuk bergerak ke bawah. Ia selalu mencari celah untuk bisa mengaliri dunia di bawahnya,” jelas sang kakek tenang. “Lalu dengan awan, Guru?” tanya si pemuda penasaran.

“Jangan sekali-kali seperti awan, anakku. Perhatikanlah! Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat tinggi. Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot; awan semakin ingin cepat meninggi,” terang sang kakek begitu bijak. “Tapi anakku,” tambahnya kemudian. “Ketinggian awan cuma jadi bahan permainan angin.” Dan si pemuda pun tampak mengangguk pelan.
**
Seribu satu harap kerap dialamatkan buat para pegiat kebaikan. Mereka yang berharap adalah kaum lemah yang butuh perlindungan, kaum miskin yang menginginkan bantuan, dan masyarakat awam yang rindu bimbingan.

Rangkaian harap itu berujung pada satu titik: agar mutu baik para pegiat kebaikan tidak cuma berhenti pada diri si pelaku. Tapi, bisa mengalir ke kaum bawah: membasahi cekungan harap yang kian mengering, dan menghidupkan benih-benih hijau yang mulai menguning.

Sayangnya, tidak semua mutu pegiat kebaikan selalu seperti air yang mengalir dan terus mengalir menyegarkan kehidupan di bawahnya. Karena ada sebagian mereka yang justru sebaliknya, seperti awan yang kian menjauh meninggalkan bumi. Seolah ada yang ingin mereka ungkapkan: selamat tinggal dunia bawah; maaf, kami sedang asyik bercengkrama bersama angin. (mnuh)